Jumat, 12 Februari 2010

KOMPETISI?? Haha…siapa takut!!

Satu…!

Dua…!

Tiga…! Duarrr!!

Begitu mendengar letusan pistol yang nyaring itu, para pelari pun segera memulai aksinya. Nafas terengah – engah, jantung berdegup - degup kencang, kaki digerakkan ke depan ke belakang sedemikian hingga bisa berada di depan peserta lainnya. Hanya satu yang ada di pikiran mereka. Terdepan!!

Begitulah gambaran mengenai sebuah kompetisi. Dan jika kita mencoba menyangkut pautkan gambaran tersebut dengan perjalanan hidup ini, maka sangatlah mengena. Nah, mari kita mulai melihat dari sisi tujuan. Tujuan dari sebuah kompetisi adalah mencari yang ter- dari yang dikompetisikan. Kompetisi cerdas cermat mencari anak yang ter-unggul, kompetisi pilkada mencari yang ter-banyak pemilihnya, dan lain sebagainya. Yang ter- lah yang akan menjadi pemenangnya. Begitu juga hidup ini, yang ter- lah yang paling dicintai oleh Allah swt.

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang terbaik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Al Mulk:2)

Allah membuka kompetisi bagi manusia untuk melakukan upaya terkerasnya dalam kehidupannya di dunia. Dan tentu saja kompetisi itu adalah kompetisi beribadah kepadaNya, sebab Allah swt menciptakan manusia untuk beribadah kepadaNya. Segala tindak tanduk kita haruslah mengandung nilai – nilai ibadah jika memang ingin berusaha menjadi pemenang dalam kompetisi yang keras ini.

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu.” (Adz Dzariyat:56)

Peserta kompetisi dipaksa untuk melakukan segalanya untuk menjadi pemenang, mulai dari persiapan yang matang sebelum kompetisi, usaha yang keras dan maksimal dalam proses kompetisi, sampai memasrahkan hasilnya kepada Yang Maha Adil. Hidup ini, juga, merupakan proses usaha kita seorang insan untuk meraih segala keindahan yang dijanjikan olehNya.

“Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar – benar berada dalam kenikmatan yang besar. Mereka duduk di atas dipan – dipan sambil memandang. Dapat kau ketahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minuman dari khamar murni yang dilak tempatnya, laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba – lomba.” (Al Muthaffifin:22-26)

Mari kita menyaksikan sebuah contoh usaha dalam “perkompetisian” di masa Rasulullah saw. Dimana alangkah besar ambisi ‘Umar ra untuk mengungguli Abu Bakar ra dalam amal dan pengorbanan. Kisahnya, seorang wanita tua pernah menolak jaminan kebutuhan dari ‘Umar ra dengan mengatakan,”Sudah ada yang menjamin kebutuhanku..”. Dan ternyata dalam pengintaian ‘Umar ra keesokan harinya, ia melihat sesosok kurus Abu Bakar ra mengendap memikul karung berisi hajat hidup nenek tersebut. Memang, menjadikan Abu Bakar ra sebagai kompetitor amal, harus membuat ‘Umar ra bergumam,”Mulai hari ini aku sadar, tampaknya aku tak akan pernah bisa mengalahkan Abu Bakar!” Rasakanlah bagaimana urgensi sebuah usaha kompetisi dalam amal dari kisah beliau - beliau, bahkan perlunya sebuah iri hati. Tentu saja iri hati yang positif.

“Tidak ada iri hati kecuali dalam 2 perkara. (Yaitu) orang yang diberi harta oleh Allah lalu dia belanjakan pada sasaran yang benar. Dan orang yang dikaruniai ilmu dan kebijaksanaan lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya” (HR Bukhori)

Tetapi sayangnya, dalam sebuah kompetisi, hanyalah orang yang mendaftar menjadi peserta lomba lari-lah yang diizinkan untuk berpartisipasi. Percuma saja jika seseorang sudah mempersiapkan segalanya untuk bersaing dalam kompetisi namun ia tidak melakukan registrasi. Ya,registrasi merupakan modal awal untuk berkompetisi. Registrasi adalah kunci awal kompetitor untuk bisa bersaing memperebutkan juara. Nah, registrasi yang dibuka oleh Allah swt untuk memperebutkan surgaNya adalah syahadat. Yup, hanya orang Islam yang secara sah bisa mengikuti perlombaan amal dan kebaikan yang diselenggarakan oleh Allah swt. Syahadat itulah yang telah menegaskan karunia hidayah bagi kita, adalah tanda keikutsertaan yang diberikan Sang Khaliq. Maka betapa tersiakannya orang – orang kafir, karena mereka bersemangat berlomba tanpa mendaftar, tanpa tanda syahadat di dadanya. Tapi, kita pun kadang menjadi tersiakan pula karena meski sudah mendaftar namun terkadang lebih suka duduk – duduk di garis start, merasa cukup dengan status keislaman itu. Islam, adalah iman dan amal shalih. Islam adalah mendaftar dan berlari dengan kekuatan penuh saudaraku!

Jika engkau telah mendaftar dengan ikrar syahadatmu, maka berlarilah sekenceng – kencengnya menuju Allah swt saudaraku….ALLAH GHAAYATUNAA…ALLAH TUJUAN KAMI!! Seperti Nabi Musa as yang terengah – engah dalam pelariannya dari pasukan Fir’aun,

”…Itulah mereka sedang menyusuli aku. Dan aku bersegera kepadaMu Ya Rabbi, agar engkau ridha kepadaku.” (Thaha:84)

Dan akhirnya, mari kita bernasyid bersama Fatih

Hidupku sekali Harus terisi

Dengan ibadah, penuh karya

Raih pahala

Dapatkan ridho tertinggi

(FATIH : Mentari)